Selasa, 04 Maret 2014

Jenis Wayang Kulit Yogyakarta

Jenis Wayang Kulit Yogyakarta

7 Agustus 2013 pukul 20:27
Wayang Kulit Purwa Gagrak Yogyakarta-Tejokusuman
Wayang Tejokusuman dibuat pada tahun 1946 di wilayah Tejokusuman, Yogyakarta. Seperti wayang kulit umumnya, Wayang Tejokusuman memiliki tatahan dan sunggingan yang halus. Perbedaan mendasar yang dapat dilihat dari wayang Tejokusuman ini adalah warna tubuh yang diwarnai krem atau kuning muda.(umumnya wayang diberi warna prada/warna emas untuk bagian tubuhnya)

Wayang Kulit Purwa Gagrak Yogyakarta-Pakualaman
Wayang Pakualaman merupakan wayang gaya Yogyakarta yang mengenakan keris. Wayang ini menjadi ciri khas wayang wilayah kraton pakualaman. Seperti wayang pada umumnya, Wayang Pakualaman juga memiliki kualitas kulit, tatahan, dan sunggingan yang baik.Karena sebelumnya wayang ini kurang disosialisasikan kepada masyarakat makan perkembangan wayang Pakulaman pun terhambat. dan saat ini sangat sulit ditemukan wayang kulit khas Pakualaman.

Wayang Kulit Purwa Gagrak Yogyakarta-Kyai Intan
Wayang Kulit Kyai intan dibuat pada tahun 1870 oleh Ki Guna Kerti dan kawan-kawan atas permintaan seorang saudagar china di Muntilan yang bernama Babah Poliem. Wayang Kyai Inten dibuat dengan menggunakan kulit kerbau yang tebal dan kehalusannya terpilih. selain itu keistimewaan satu set wayang ini adalah di setiap wayangnya terdapat batu intan muda atau yakut dan juga di prada emas. Sebagai patokan diambil pakem wayang Yogyakarta. Intan tersebut dapat ditemui di mahkota, sumping (hiasan belakang kepala), kalung/kalung ulur-ulur, garuda mungkur, anting-anting dan lain-lain. Perbedaan yang jelas antara Wayang Intan dan wayang standard Yogyakarta terdapat pada wayang putren. Bila pada gaya Yogyakarta wayang putren memiliki kain yang menjorok kedepan makan di wayang Kyai inten ini kain jarik para putren dibuat sebaliknya, ke belakang sehingga terkesan terseret.

Wayang Kulit Purwa Gagrak Yogyakarta-Kraton
Wayang Kulit Kraton adalah satu set wayang yang dibuat atas permintaan sultan dan kemudian dijadikan pusaka kraton. Wayang Kulit Kraton umumnya adalah patokan dan pakem untuk wayang di suatu daerah seperti di Surakarta, Kedu dan Yogyakarta. Kraton Yogyakarta saat ini memiliki sekitar sepuluh set kotak wayang. Diantaranya adalah pusaka paling berharga yang diciptakan pada masa Sri Sultan Hamengkubuwono VII. Kotak wayang ini konon merupakan salah satu kotak wayang kulit purwa yang terlengkap di dunia dengan isinya sekitar 600 wayang (dalam satu kotak umumnya terdapat 200 buah wayang). Menurut kabar, wayang pusaka ini tidak pernah dapat diambil gambarnya. Wayang Kraton memiliki kualitas tatahan dan sunggingan yang lebih baik dari standard wayang yang ada pada umumnya dan juga tiap wayangnya diprada (diberi lapisan) emas. Umumnya hanya dalang-dalang senior saja yang dapat memainkan wayang-wayang ini.

Minggu, 16 Februari 2014

WYUHA (GELAR PERANG)

WYUHA (GELAR PERANG)

7 Agustus 2013 pukul 21:20

Macam2 Wyuha (Gelar Perang) dalam kitab Arthasastra dan Bharatayudha.

1. ddanndda wyuha : susunan tentara seperti alat pemukul.

2. bhoga wyuha : susunan tentara seperti ular.

3. mannddala wyuha : susunan tentara seperti lingkaran.

4. asamhata wyuha : susunan tentara yang bagian-bagiannya terpisah-pisah.

5. pradara wyuha : susunan tentara untuk menggempur musuh.

6. ddrddhaka wyuha : susunan tentara dengan sayap dan lambung tertarik kebelakang.

7. asahya wyuha : susunan tentara yang tidak dapat ditembus.

8. garudda wyuha : susunan tentara seperti garuda.

9. sanjaya wyuha : susunan tentara untuk mencapai kemenangan dan berbentuk busur.

10. wijaya wyuha : susunan tentara menyerupai busur dengan bagian busur depan yang mencolok.

11. sthulakarnna wyuha : susunan tentara yang berbentuk telinga (karnna) besar (sthula).

12. wicalawijaya wyuha : susunan tentara yang disebut kemenangan mutlak ; susunannya sama dengan 11,
hanya saja bagian depan disusun dua kali lebih kuat dari pada 11.

13. camumukha wyuha : susunan tentara dengan bentuk 2 sayap yang berhadapan muka dengan musuh (camu dalam bahasa Sansekerta berarti suatu kesatuan perang).

14. jhashasya wyuha : susunan tentara seperti 13, hanya saja sayapnya ditarik kebelakang dan berbentuk muka ikan.

15. suimukha wyuha : susunan tentara yang berujung (mukha) ; seperti jarum (suci)

16. walaya wyuha : susunan tentara seperti 15, hanya saja barisannya terdiri dari 2 lapisan.

17. ajaya wyuha : susunan tentara yang tidak teralahkan.

18. sarpasari wyuha : susunan tentara seperti ular (sarpa) yang bergerak (sari).

19. gomutrika wyuha : susunan tentara yang berbentuk arah terbuangnya air kencing (mutrika) sapi (go).

20. syandana wyuha : susunan tentara yang menyerupai kereta (syandana).

21. godha wyuha : susunan tentara yang menyerupai buaya (godha).

22. waripatantaka wyuha : susunan tentara sama dengan 20, hanya saja segala pasukan terdiri dari barisan gajah, kuda dan kereta perang.

23. sarwatomukha wyuha : susunan tentara yang berbentuk lingkaran, sehingga pengertian sayap, lambung dan bagian depan tidak ada lagi ; sarwato dari kata sarwata berarti seluruh, sedangkan mukha berarti arah.

24. sarwatabhadra wyuha : susunan tentara yang serba (sarwata) menguntungkan (bhadra).

25. ashttanika wyuha : susunan tentara yang terdiri 8 divisi (asstta atau ashttanika berarti 8).

26. wajra wyuha : susunan tentara menyerupai petir (wajra) dan terdiri dari 5 divisi yang disusun terpisah-pisah
satu dari yang lain.

27. udyanaka wyuha : susunan tentara menyerupai taman (udyanaka) yang juga disebut kakapadi wyuha, artinya susunan tentara yang berbentuk kaki (padi berarti berkaki) burung kaka-tua (kaka) dengan ketentuan bahwa susunan tentara ini terdiri 4 divisi.

28. ardhacandrika wyuha : susunan tentara yang berbentuk bulan sabit. juga disebut ardhacandra wyuha ; ditentukan bahwa susunan tentara ini berdasarkan atas 3 divisi.

29. karkattakacrenggi wyuha : susunan tentara yang berbentuk kepala (srengga) udang (karkattaka).

30. arista wyuha : susunan tentara yang serba menang (arista) dengan susunan garis depan yang ditempati oleh arisan kereta perang, barisan gajah, sedangkan barisan berkuda menempati garis belakang.

31. acala wyuha : susunan tentara yang tidak bergerak, ialah suatu susunan tentara dengan menempatkan barisan infanteri, barisan gajah, kuda dan kereta perang satu di belakang yang lain.

32. cyena wyuha : susunan tentara sama dengan garuda wyuha.

33. apratihata wyuha : susunan tentara yang tidak dapat dilawan ( pratihata berarti melawan, sedangkan a berarti tidak) dengan ketentuan bahwa barisan gajah, kuda, kerata perang dan infanteri ditempatkan satu dibelakang yang lain.

34. capa wyuha : susunan tentara yang berbentuk busur.

35. madhya wyuha : susunan tentara yang berbentuk busur dengan inti kekuatan di bagian tengah.

36. singha wyuha : susunan tentara berbentuk singa.

37. makara wyuha : susunan tentara yang berbentuk makara (udang).

38. padma wyuha : susunan tentara yang berbentuk bunga seroja.

39. wukir sagara wyuha : susunan tentara yang berbentuk bukir dan samudera.

40. wajratikshnna wyuha : susunan tentara yang berbentuk wajra atau petir yang tajam.

41. gajendramatta atau gajamatta wyuha : gajah ngamuk.
notes: tulisan wyuha dalam ejaan lama !! , gambar nyusul kalau sempat scanning.
PROF. DR. R. M. SUTJIPTO WIRJOSUPARTO
sumber: KAKAWIN BHARATA-YUDDHA

Dua Puluh Strategi Perang Sunda Abad Ke-16

Dua Puluh Strategi Perang Sunda Abad Ke-16

7 Agustus 2013 pukul 21:19
Bagaimana strategi orang Sunda dulu berperang, belum banyak dibahas. Naskah Sanghyang Siksakandang Karesian hanya menyebutkan nama-nama strategi perang yang diterapkan paling tidak sampai abad ke-16.
Dalam Sanghyang Siksakandang Karesian disebutkan, “Bila ingin tahu tentang perilaku perang, seperti makarabihwa, katrabihwa, lisangbihwa, singhabihwa, garudabihwa, cakrabihwa, sucimuka, brajapanjara, asumaliput, meraksimpir, gagaksangkur, luwakmaturut, kidangsumeka,
babahbuhaya, ngalinggamanik, lemahmrewasa, adipati, prebusakti, pakeprajurit, tapaksawetrik, tanyalah panglima perang.” (Saleh Danasasmita, dkk., 1987)

Tulisan ini mencoba mendeskripsikan strategi perang dimaksud. Mudah-mudahan bisa jadi bahan kajian yang lebih mendalam untuk berbagai pemanfaatan.
1. Makarabihwa. Cara mengalahkan musuh dengan tidak berperang. Mengalahkan musuh dari dalam musuh itu sendiri, dengan menggunakan kekuatan pengaruh. Praktik merusak kekuatan musuh dari dalam agar merasa kalah sebelum berperang.

2. Katrabihwa. Posisi prajurit saat menyerang musuh, ada yang ditempatkan di atas, biasanya dengan menggunakan senjata panah, dan prajurit yang di bawah, biasanya menggunakan tombak dan berkuda.

3. Lisangbihwa. Sebelum perang dimulai, Panglima Perang/Hulu Jurit mengumpulkan pasukan tempurnya agar seluruh prajurit berteguh hati menjadi pasukan yang berani dan bersemangat berperang untuk mengalahkan musuh walaupun kekuatan lebih kecil.

4. Singhabihwa. Mengalahkan pertahanan musuh dengan cara menyusup. Para penyusup merupakan tim kecil yang jumlahnya hanya lima orang, terdiri atas ahli perang, ahli strategi, dan ahli memengaruhi musuh. Musuh terpengaruh oleh strategi yang kita lancarkan sehingga pada tahap ini musuh hancur oleh pikirannya sendiri. Waktunya sangat lama.

5. Garudabihwa. Memusatkan kekuatan pasukan pada posisi yang tersebar di beberapa titik penting yang telah ditentukan untuk pertempuran. Kekuatan di setiap titik jumlahnya 20 orang. Dengan simbol-simbol khusus, prajurit yang tersebar itu akan menyerang secara berbarengan
dan sekaligus, kemudian menyebar kembali untuk mempersiapkan penyerangan berikutnya.

6. Cakrabihwa. Menyusupkan beberapa orang prajurit ke benteng pertahanan musuh dengan cara rahasia dengan tujuan utama untuk menyusupkan persenjataan yang kelak akan digunakan oleh pasukan saat bertempur. Mereka harus prajurit yang sangat terlatih dan mengetahui medan, serta mengetahui cara-cara penyusupan.

7. Sucimuka. Upaya pembersihan musuh setelah perang usai sebab biasanya masih ada musuh yang berdiam di persembunyian. Para prajurit harus mengetahui daerah-daerah yang pantas digunakan sebagai tempat berlindung dan menjadi persembunyian musuh yang sudah tercerai-berai.
Prajurit harus mengetahui jalan-jalan yang dijadikan tempat untuk meloloskan diri. Pembersihan ini sangat penting agar musuh tidak menghimpun kekuatannya kembali.

8. Brajapanjara. Mendidik beberapa orang musuh agar bekerja untuk pihak kita. Setelah dianggap tidak membahayakan, mereka dilepas kembali ke daerahnya untuk dijadikan mata-mata. Orang itulah yang akan mengirimkan informasi mengenai kekuatan musuh, seperti jenis dan jumlah senjata yang mereka miliki, dan strategi perang apa yang akan digunakan. Harus sangat hati-hati saat mendidiknya.

9. Asumaliput. Setiap prajurit harus mengetahui tempat berlindung atau bersembunyi serta tidak akan diketahui musuh, seperti di dalam gua, tetapi harus pandai melihat situasi.

10. Meraksimpir. Cara berperang ketika prajurit berada di daerah yang lebih rendah, sedangkan musuh berada di daerah yang lebih tinggi. Bila posisinya demikian, pasukan dipersenjatai dengan tombak dan berkuda.

11. Gagaksangkur. Cara berperang ketika prajurit berada di daerah yang lebih tinggi, sedangkan musuh berada di bawah. Cara mengalahkan musuh dari atas, seperti cara meloncat atau menghadang.

12. Luwakmaturut. Gerakan untuk memburu musuh yang kabur dari lapangan pertempuran. Prajurit harus tahu cara pengejaran yang paling cepat di berbagai medan yang berbeda. Pengejaran musuh harus sampai di tempat persembunyiannya, apakah di air, atau yang lari ke dalam hutan.

13. Kudangsumeka. Cara menggunakan pedang yang lebih kecil. Bila menyusup ke daerah musuh, prajurit harus mengetahui cara-cara menyembunyikan pedang/senjata itu agar tidak diketahui musuh.

14. Babahbuhaya. Cara menghimpun kekuatan prajurit pada saat pasukan tertekan dan terjepit musuh, seperti cara/upaya memulihkan mental, semangat, dan kekuatan prajurit. Dilatihkan ke mana harus berlari, jangan sampai berlari ke daerah kekuatan musuh. Cara bagaimana bila saat berlari ada musuh di depan, atau musuh yang terus mengejar, serta cara bagaimana memilih tempat perlindungan. Bila terlihat aman, prajurit merundingkan upaya penyelamatan dan merencanakan penyerangan balik.

15. Ngalinggamanik. Prajurit yang sudah terlatih dipersenjatai dengan senjata rahasia, atau senjata keramat kerajaan, seperti tombak. Prajurit dilatih untuk mengendalikan senjata keramat itu, bila tidak, bisa-bisa prajurit itu yang terpental atau pingsan.

16. Lemahmrewasa. Cara berperang di hutan belantara atau di tempat-tempat yang rimbun, terutama ketika pasukan dalam keadaan terdesak dengan senjata pasukan yang sudah tidak mampu melayani kekuatan persenjataan musuh. Semua potensi yang bisa digunakan sebagai
senjata dimanfaatkan, seperti batu atau batang pohon.

17. Adipati. Teknik untuk melatih prajurit yang akan dijadikan prajurit dengan kemampuan khusus. Pasukan komando yang mempunyai kemampuan perseorangan yang tangguh dan dapat diandalkan.

18. Prebusakti. Setiap prajurit dibekali latihan keahlian khusus seperti tenaga dalam agar senjata lebih berisi, lebih matih, punya kekuatan mengalahkan musuh secara luar biasa.

19. Pakeprajurit. Sering kali raja menitahkan untuk tidak berperang. Prajurit terpilih, yaitu prajurit yang sudah terlatih untuk berunding, mengadakan perundingan-perindingan sehingga musuh dapat dikalahkan tanpa berperang. Namun, Panglima Perang/Sang Hulu Jurit, sesungguhnya menghendaki kemenangan dengan cara berperang.

20. Tapaksawetrik. Cara-cara berperang di air. Bagaimana cara mengelabui musuh agar tidak mengetahui pergerakan prajurit, serta cara-cara menggunakan senjata di air, seperti di sungai. Prajurit harus terlatih untuk mendekati musuh melalui jalan air.
Senjata Persenjataan yang digunakan dalam perang pada zaman itu pada umumnya sudah berupa senjata dari logam, apakah itu tombak ataupun pedang. Peninggalan senjata yang ditemukan di beberapa tempat di Jawa Barat, masih dapat dilihat di Museum Nasional di Jakarta (Lihat Dr. N.J. Krom, Laporan Kepurbakalaan Jawa Barat 1914). Sementara itu, kendaraan yang digunakan saat bertempur pada umumnya adalah kuda.
Tulisan ini merupakan upaya pendahuluan untuk mengetahui deskripsi dari setiap istilah strategi perang yang terdapat dalam Sanghyang Siksakandang Karesian.
Mudah-mudahan bermanfaat dan dapat diterapkan dalam berbagai keperluan, seperti manajemen dan kepemimpinan.***
T. BACHTIAR
Alumnus Suscados Lemhanas angkatan XIII – 1985, anggota Masyarakat
Geografi Indonesia dan Kelompok Riset Cekungan Bandung.

Jenis Wayang Kulit Yogyakarta

Jenis Wayang Kulit Yogyakarta

7 Agustus 2013 pukul 20:27

Wayang Kulit Purwa Gagrak Yogyakarta-Tejokusuman

Wayang Tejokusuman dibuat pada tahun 1946 di wilayah Tejokusuman, Yogyakarta. Seperti wayang kulit umumnya, Wayang Tejokusuman memiliki tatahan dan sunggingan yang halus. Perbedaan mendasar yang dapat dilihat dari wayang Tejokusuman ini adalah warna tubuh yang diwarnai krem atau kuning muda.(umumnya wayang diberi warna prada/warna emas untuk bagian tubuhnya)

Wayang Kulit Purwa Gagrak Yogyakarta-Pakualaman

Wayang Pakualaman merupakan wayang gaya Yogyakarta yang mengenakan keris. Wayang ini menjadi ciri khas wayang wilayah kraton pakualaman. Seperti wayang pada umumnya, Wayang Pakualaman juga memiliki kualitas kulit, tatahan, dan sunggingan yang baik.Karena sebelumnya wayang ini kurang disosialisasikan kepada masyarakat makan perkembangan wayang Pakulaman pun terhambat. dan saat ini sangat sulit ditemukan wayang kulit khas Pakualaman.

Wayang Kulit Purwa Gagrak Yogyakarta-Kyai Intan

Wayang Kulit Kyai intan dibuat pada tahun 1870 oleh Ki Guna Kerti dan kawan-kawan atas permintaan seorang saudagar china di Muntilan yang bernama Babah Poliem. Wayang Kyai Inten dibuat dengan menggunakan kulit kerbau yang tebal dan kehalusannya terpilih. selain itu keistimewaan satu set wayang ini adalah di setiap wayangnya terdapat batu intan muda atau yakut dan juga di prada emas. Sebagai patokan diambil pakem wayang Yogyakarta. Intan tersebut dapat ditemui di mahkota, sumping (hiasan belakang kepala), kalung/kalung ulur-ulur, garuda mungkur, anting-anting dan lain-lain. Perbedaan yang jelas antara Wayang Intan dan wayang standard Yogyakarta terdapat pada wayang putren. Bila pada gaya Yogyakarta wayang putren memiliki kain yang menjorok kedepan makan di wayang Kyai inten ini kain jarik para putren dibuat sebaliknya, ke belakang sehingga terkesan terseret.

Wayang Kulit Purwa Gagrak Yogyakarta-Kraton

Wayang Kulit Kraton adalah satu set wayang yang dibuat atas permintaan sultan dan kemudian dijadikan pusaka kraton. Wayang Kulit Kraton umumnya adalah patokan dan pakem untuk wayang di suatu daerah seperti di Surakarta, Kedu dan Yogyakarta. Kraton Yogyakarta saat ini memiliki sekitar sepuluh set kotak wayang. Diantaranya adalah pusaka paling berharga yang diciptakan pada masa Sri Sultan Hamengkubuwono VII. Kotak wayang ini konon merupakan salah satu kotak wayang kulit purwa yang terlengkap di dunia dengan isinya sekitar 600 wayang (dalam satu kotak umumnya terdapat 200 buah wayang). Menurut kabar, wayang pusaka ini tidak pernah dapat diambil gambarnya. Wayang Kraton memiliki kualitas tatahan dan sunggingan yang lebih baik dari standard wayang yang ada pada umumnya dan juga tiap wayangnya diprada (diberi lapisan) emas. Umumnya hanya dalang-dalang senior saja yang dapat memainkan wayang-wayang ini.

Jumat, 14 Februari 2014

Cengkorong Pada Paes Ageng ( Riasan Pengantin Jawa )

Cengkorong Pada Paes Ageng

30 Oktober 2013 pukul 12:16

Beauty.and.Style Seperti dikemukakan Prof. Koentjaraningrat, bahwa upacara perkawinan pada dasarnya merupakan suatu peralihan terpenting dalam daur hidup seseorang, yaitu peralihan dari tingkat hidup remaja ke tingkat hidup berkeluarga. Inti dari upacara pernikahan, tak hanya melulu pada ritual upacara yang dilakukan, namun juga detail seperti riasan pengantin. Seperti dikutip dari ullensentalu, salah satu tata rias dan busana pengantin adalah Paes Ageng Gaya Yogyakarta. Sampai masa pemerintahan Sultan Sultan HB VIII, paes ageng ini hanya boleh dikenakan oleh kerabat raja. Baru pada masa pemerintahan raja berikutnya, Sultan HB IX (1940), mengijinkan masyarakat umum memakai busana ini dalam upacara pernikahan. Pemakaian busana paes ageng sangat rumit, memerlukan ketekunan dan ketelitian yang di dalamnya terkandung kesakralan maupun makna filosofi dalam setiap detail rias wajah, busana, dan aksesorinya. Untuk itu segala sesuatu yang berhubungan dengan paes dipercayakan pada seorang juru rias paes pengantin. Baik perias maupun pengantin putri yang dirias wajib berpuasa sebelum menjalankan acara. Tujuan utamanya adalah mengendapkan perasaan untuk membersihkan jiwa dan menguatkan batin agar dapat melaksanakan tugas dengan baik dan terhindar dari malapetaka. Masyarakat Jawa percaya bahwa kebersihan dan kekuatan batin juru rias akan menjadikan pengantin yang diriasnya cantik molek dan bersinar. Nah, berikut adalah tahapan merias wajah gaya paes ageng beserta makna dan filosofinya, menurut ullensentalu: 
 Tahap 1: Ratusan Proses pengasapan bahan ratus yaitu wewangian tradisional pada rambut agar harum  

Tahap 2: Halup-Halupan Atau disebut juga prosesi cukur rambut. Di mana dilakukan pembersihan wajah pengantin dengan cara mencukur rambut halus yang tumbuh di dahi atau memotong rambut menjuntai ke dahi sehingga wajah tampak bersih dan siap untuk dibuat pola wajah.  

Tahap 3: Cengkorongan Merupakan pembuatan pola wajah paes ageng gaya Yogyakarta. Penentuan bentuk dan pembuatan cengkorong ini dikerjakan dengan pensil dan hasil akhirnya berupa gambar samar-samar/tipis. Cengkorong meliputi:

1. Citak pada dahi, yaitu bentuk belah ketupat kecil dari daun sirih pada pangkal hidung di antara dua alis. Ada beberapa versi mengenai makna filosofinya, antara lain bahwa citak sebagai refleksi mata Dewa Syiwa yang merupakan pusat panca indra sehingga menjadi pusat keseluruhan ide. Pendapat lain mengatakan bahwa citak sebagai pemberi watak pada keseluruhan ide paes.

 2. Panunggul, pangapit, panitis, godeg Panunggul dibuat di atas citak, di tengah-tengah dahi, berbentuk meru melambangkan Trimurti (tiga kekuatan dewa yang manunggal). Di tengah-tengah panunggul diisi hiasan berbentuk capung atau kinjengan, yaitu seekor binatang yang selalu bergerak tanpa lelah dengan harapan agar pengantin selalu ulet dalam menjalani hidup. Panunggul berasal dari kata tunggal, yaitu terkemuka atau tertinggi, mengandung makna dan harapan agar seorang wanita ditinggikan atau dihormati. Pengapit terletak di kiri kanan panunggul berbentuk seperti meru (gunung) namun langsing. Penitis terletak di antara pengapit dan godheg. Pengapit, panitis, godheg dibuat sebagai keseimbangan wajah, maka diletakkan simetris dengan panunggul.

3. Alis dibuat berbentuk menjangan ranggah atau disebut juga tanduk rusa. Rusa merupakan simbol kegesitan, dengan demikian kedua pengantin diharapkan dapat bertindak cekatan, trampil, dan ulet dalam menghadapi persoalan rumah tangga. Daerah sekeliling mata dibiarkan tidak terjamah oleh boreh, diberi gambaran yang disebut jahitan. Untuk membentuk mata lebih tajam dan anggun sehingga orang-orang akan mengaguminya. Tahap 4: Kandelan Setelah cengkorongan selesai dibuat sesuai pola dasar dan tampak pantas (layak), baru kemudian paes wajah diselesaikan dengan menebalkan garis-garis yang samar menjadi paesan dadi (paes jadi). Tahap 5: Dados: Selesai kandelan, dilanjutkan dengan dandos jangkep pengantin (pengantin berdandan lengkap) yang meliputi sanggul pengantin, perhiasan pengantin, kain pengantin, baju pengantin, dan dandosan (berbusana) lain selengkapnya. 1. Hiasan Sanggul Tata rambut pengantin dibuat seperti bokor tengkurap sehingga dinamakan bokor mengkurep. Sanggul rambut diisi dengan irisan daun pandan dan ditutup rajut bunga melati. Perpaduan daun pandan dan bunga melati memancarkan keharuman yang berkesan religius, sehingga pengantin diharapkan dapat membawa nama harum yang berguna bagi masyarakat. Gelung bokor mengkurep disempurnakan lagi dengan jebehan, yaitu

3 bunga korsase warna merah-kuning-biru (hijau) yang dirangkai menjadi satu dan dipasang di sisi kiri - kanan gelung. Tiga warna bunga itu melambangkan Trimurti (dewa Syiwa-Brahma-Wisnu). Di tengah sanggul dihias dengan bunga merah disebut ceplok, dan di kiri – kanan ceplok itu disematkan masing-masing satu bros emas permata. Pada bagian bawah agak ke arah kanan sanggul dipasang untaian melati berbentuk belalai gajah sepanjang 40 cm, diberi nama gajah ngoling. Hiasan ini bermakna bahwa pemakainya menunjukkan kesucian/kesakralan baik sebagai putri maupun kesucian niat dalam menjalani hidup yang sakral pula.
  
2. Aksesoris Paes Ageng Perhiasan yang dipergunakan pengantin putri disebut pula dengan nama raja keputren. Semua terbuat dari emas bertahtakan berlian yang dirancang dengan seni tinggi dan sangat halus. Set perhiasan ini berupa:  

a. Cunduk Menthul 5 tangkai bunga dipasang di atas sanggul menghadap belakang, menggambarkan sinar matahari yang berpijar memberi kehidupan, sering juga dikaitkan dengan lima hal yang menjadi dasar kerajaan Mataram Islam ini, seperti yang tercantum dalam Kitab Suci.

 b. Pethat/sisir berbentuk gunung Hiasan berupa sisir terbuat dari emas diletakkan di atas sanggul berbentuk seperti gunung, sebagai simbol kesakralan. Dalam mitologi Hindu, gunung adalah tempat bersemayam nenek moyang dan tempat tinggal para dewa serta pertapa.

 c. Kalung Sungsun Melambangkan 3 tingkatan kehidupan manusia dari lahir, menikah, meninggal. Hal ini dihubungkan dengan konsepsi Jawa tentang alam baka, alam antara, dan alam fana.  

d. Gelang Binggel Kana Berbentuk melingkar tanpa ujung pangkal yang melambangkan kesetiaan tanpa batas.  

e. Kelat Bahu Berbentuk seekor naga, kepala dan ekornya membelit. Melambangkan bersatunya pola rasa dan pikir yang mendatangkan kekuatan dalam hidup. Dalam mitologi Jawa, Naga merupakan hewan suci yang dipercaya menyangga dunia.

f. Centhung Perhiasan berupa sisir kecil bertahtakan berlian di letakkan di atas dahi pada sisi kiri dan kanan. Melambangkan bahwa pengantin putri telah siap memasuki pintu gerbang kehidupan rumah tangga.  

g. Cincin Menurut beberapa serat yang ditulis sejak jaman Sultan Agung seperti serat Centhini, serat Wara Iswara (Sunan PB IX) ditulis bahwa para putrd tidak diperkenankan memakai cincin di jari tengah. Karena sebagai symbol satu perintah untuk diunggulkan, yaitu milik Tuhan. Cincin di jari manis sebagai symbol untuk senantiasa bertutur kata manis. Cincin di jari kelingking simbol untuk selalu terampil dan giat dalam mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Cincin di ibu jari sebagai simbol untuk senantiasa melakukan pekerjaan dengan ikhlas dan terbaik. 3. Busana Busana dalam Paes Ageng terdiri dari: Kain Dodot/Kampuh berukuran 4 – 5 meter dengan lebar 2-3 meter. Motif batik yang sering digunakan adalah Sido Mukti, Sido Asih, Semen Rama, Truntum. Motif-motif tersebut mempunyai makna filosofi yang sangat bagus berupa harapan akan berlangsungnya kehidupan rumah tangga yang kekal, saling berbagi dan mengisi dengan cinta kasih dan harapan akan dikaruniai hidup sejahtera. Selain kain panjang, pengantin putri memakai pakaian dalam dan selendang kecil (udet) berupa kain sutra motif cinde. Konon motif ini merupakan lambang sisik naga, yaitu simbol kekuatan. Sumber lain mengatakan bahwa motif cinde sebagai penghormatan kepada Dewi Sri, dewi kesuburan dan kemakmuran (dewi padi).   in Share  Title : Tahapan Merias Wajah Pengantin Wanita Gaya Paes Ageng Yogyakarta Description : Seperti dikemukakan Prof. Koentjaraningrat, bahwa upacara perkawinan pada dasarnya merupakan suatu ...ikuti ajang konte...
  • Tahapan Merias Wajah Pengantin Wanita Gaya Paes Ageng Yogyakarta Seperti dikemukakan Prof. Koentjaraningrat, bahwa upacara perkawinan pada dasarnya merupakan suatu peralihan terpenting dalam daur hidup ...
Go Ngeblog Cara Membuat Menghilangkan Mencegah Recipe Gadis GirLieS Remaja Resep Masakan Cara Membuat Dermis Xylem Floem

Istilah-Istilah Dalam Seni Tari dan Perhiasannya

Istilah-Istilah Dalam Seni Tari dan Perhiasannya

7 Agustus 2013 pukul 21:17
*Badhak Merak. Penari yang memakai topeng besar, biasanya dalam pertunjukan Reyog atau Dhoger. Tutup kepala atau topeng ini melebar ke atas. Disebut badhak merak sebab topeng di bagian wajahnya menyerupai binatang badhak, sedang yang melebar ke atas digambari bulu merak atau sering bulu merak sungguh-sungguh. Badhak Merak ini sering disebut Dhadhak Merak atau Merak-merakan.
Bantalan. Benang yang dibalut dengan kain sebesar ibu jari digunakan sebagai alas bilahan gambang. Ada kalanya bahan ini berupa ijuk yang dibalut kain.

*Bara. Hiasan pada pakaian tari Jawa yang dikenakan pada pinggang bagian kanan dan kiri. Bentuknya selebar sabuk, panjangnya lebih kurang 40 cm, biasanya diberi hiasan mote dan ketep.
Benges. Bahan rias yang warnanya merah atau merah muda. Istilah ini dipakai jika untuk mewarnai bibir (lipstick). Beragam gerongan dengan nada rendah dinyanyikan dengan nada tinggi.
Blangkon. Ikat kepala yang terbuat dari kain denganmotif batikyang bermacam-macam. nama Blangkon berasal dari kata blangko, yang berarti ikat kepala, itu sudah dirakit atau dipas sedemikan rupa menurut ukuran kepala. Ikat kepala ini sebagai kelengkapan pakaian adat laki-laki di jawa. Perkembangan sekarang biasa untuk pakaian tari.

*Blencong. tabung bulat yang diisi dengan minyak kelapa, di bagian samping ada pipa berlubang tempat masuknya sumbu dari benag, sebagai alat penerangan (semacam, pelita) yang digantungkan di tengah tabir, tepat di atas kepala dhalang pada pertunjukan wayang kulit.

*Bokongan. Tiruan dari pada pantat supaya pantatnta kelihatan besar. Pakaian ini biasanya dipakai untuk peranan pria dalam pewayangan atau cara memakai sama dengan dhandhan.

*Boreh. bahan rias atau make up pada wayang wong atau tarian yang berwarna kuning. Boreh ini sering juga disebut lulur, fungsinya biasanya untuk memberi warna seluruh badan sehingga menjadi kuning. Menurut tradisi penari-penari harus mempunyai warna kulit yang kuning.
Buntal. bagian pakaian tari atau wayang wong yang terbuat dari kertas yang ermacam-macam warnanya. Potongan-potongan kertas itu dilipat-lipat sebagai rupa, sehingga setelah diikat dan dirangkai bentuknya menjadi bundar-bundar kecil, yang kira-kira garis tengahnya 7-10 cm. Rangkaian bundaran kertas itu disusun memanjang kira-kira sampai 2 meter. Menurut tradisi, buntal sebagai kelengkapan pakaian adat penganten Jawa yang aslinya terbuat dari daun-daunan. Buntal berasal dari kata bontel yang berarti bermacam-macam warna.

*Buntut. Tiruan ekor untuk peranan kera. cara memakai dikenakan pada sabuk bagian belakang seperti ekor, ujungnya dihubungkan pada irah-irahan. Untuk gaya Yogyakarta bahanya terbuat dari kapuk yang dimasukkan dalam kain sehingga bentuknya bulat dan panjang kira-kira 1,50 m.

*Buntut Cecak. tempat untuk memegang kemanak yang berbentuk panjang dan pada ujungnya melengkung mirip ekor.

*Cancutan. Sering juga disebut cawetan yaitu cara berkain untuk peranan kera khususnya gaya Yogyakarta.
Cawi. bentuk sunggingan dan tatahan pada kulit untuk pakaian-pakaian tari yang berbentuk garis-garis kecil seperti bentukl jarum.

*Celak. bagian daripada kelopak mata yang diberi warna hitam, supaya mata lebih kelihatan besar atau tajam.

*Celana panji-panji. Celana tari yang panjangnya kira-kira sampai bawah lutut.

*Celuk. Introduksi dengan vokal, biasanya menggunakan bait pertama atau bait terakhir dari salah satu tembang (lihat tembang).

*Cemehi Samandiman. Cambuk yang dibawa oleh Wirayuda dalam tari Jathilan atau kuda kepang Temanggung.

*Cempala. Alat pemukul kothak pada pertunjukan wayang kulit. Cempala dibuat dari kayu berbentuk mirip dengan stupa dengan garis tengah sekitar 10 cm dan panjangnya 15 cm. Di Yogyakarta, cempala yang dibuat dari kuningan atau perunggu yang bentuknya lebih kecil, digunakan sebagai pemukul kepyak dengan dijapit ibu jari kaki.

*Ceplik. Sering juga disebut borokan, merupakan hiasan thothok yang terdiri dari satu pasang pada bagian kanan dan kiri.

*Cindhen. Motif sampur dan celana panji-panji serta bagian-bagian lain dari kostum tari gaya Yogyakarta yang berwarna dasar merah, biru, hijau, kuning.

*Congoran. Sering pula disebut cangkeman, dan berfungsi sebagai topeng, tetapi hanya menutup bagian mulut. Untuk bagian muka lainnya diberi rias. Gaya Yogyakarta congoran dipakai dalam Langenmandra Wanara.

*Corekan. Rias muka setelah bagian muka diberi dasar, yaiu kumis, alis, godhek dan lain sebagainya.

*Cundhuk Jungkat. Perhiasan (lihat cundhuk mentul) yang berfungsi sebagai cundhuk yang bentuknya seperti sisir atau jungkat. Perhiasan ini biasanya terbuat dari mas atau tiruan mas.

*Cundhuk Mentul. Perhiasan biasanya untuk putri. Perhiasan ini sebagai cundhuk seperti bentuk bunga yang bisa bergerak seperti pir atau bahasa Jawa mentul-mentul. Perhiasan ini dikenakan pada hiasan sanggul, bahannya terbuat dari emas atau tiruan emas.

*Dhadhan. Bagian tari sebagai tiruan dhadha seupaya kelihatan besar. Bagian ini dipakai untuk peranan-peranan yang memakai baju, khususnya peranan kera dan raksasa. Dhadhan ini terbuat dari kapas yang dibungkus dengan kain, atau dengan anyaman dari rotan yang dibentuk sedemikian rupa. Cara memakainya diberi tali dan dikalungkan pada leher.

*Dhampar. Kursi beralas persegi tanpa sandaran untuk tempat duduk raja dan para ksatria dalam adegan resmi di balairung pada drama tari Jawa wayang wong (lihat wayang wong) gaya Yogyakarta.

*Dhendhan. Kayu bulat yang terletak pada kanan dan kiri bagian atas rancakan gender dimana ada lubang untuk memasukkan pluntur sebagai tali untuk merentangkan bilahan gender. Dhendhan ini merupakan alat pengencang pluntur. Di daerah Yogyakarta ada yang mirip bentuk nisan (dhendhan kijingan).

*Dhingklik. Kursi beralas bundar tanpa sandaran untuk tempat duduk para ksatria dalam adegan resmi di balairung pada drama tari Jawa wayang wong (lihat wayang wong) gaya Yogyakarta.

*Dhuduk. Wanita yang bertugas menladeni menyampaikan senjata prang seperti perisai dan panah kepada penari Srimpi gaya Yogyakarta.

*Dhuwung. Bahasa jawa Krama (tinggi, halus) untuk keris yang merupakan perlengkapan kostum tari Jawa gaya Yogyakarta yang juga dipakai ebagai senjata berperang. Peranan puteri mengenakan keris di depan diselipkan pada sabuk menempel perut, sedang peranan putera ada yang mengenakan keris di depan seperti misalnya para dewa, resi atau pertapa, tetapi pada umumnya dipakai di belakang diselipkan pada sabuk. Untuk gaya Yogyakarta dari kulit.

*Dhuwung Branggah. Keris yang bentuk kepala selosongnya (rangka) runcing sebelah. Untuk tari gaya Yogyakarta keris ini dipakai yang juga dipakai sebagai senjata berperang. Peranan puteri mengenakan keris di depan diselipkan pada sabuk menmpel di perut, sedang peranan putera ada yang mengenakan keris di depan seperti misalnya dewa, resi, atau pertapa, tetapi pada umumnya dipakai dibelakang diselipkan pada sabuk. Untuk gaya Yogyakarta dari kulit.

*Dhuwung Gayaman. Keris yang bentuk kepala selongsongnya (rangka) tumpul untuk tari gaya Yogyakarta kerisini dipakai oleh penari putera gagah.
Dodod.

1. Cara berkain. Ukuran kainnya lebih kecil dari pada kampuh, kurang lebih panjang 4 meter, lebar 1,10 meter. Selain untuk pakaian tari, dalam upacara kebesaran dikenakan oleh permaisuri raja, dan puteri-puteri raja yang sudah kawin.

2. Kain penutup menthak yang dibuat dari kain beledu dengan dihiasi benang keemasan, umumnya digunakan pada kalangan panbuh gamelan daerah Yogyakarta.
Dolanan Sondher. Ragam gerak tangan kiri dan kanan menggambarkan sedang bermain (dolanan) selendang (sampur atau sondger) yang terdapat pada tari putra halus dan gagah gaya Yogyakarta. Gerak ini dipakai pada

Tari Kelana.
Dolanan Supe. ragam gerak tangan kiri dan kanan menggambarkan penari sedang bermain-main (dolanan) dengan cincinnya (supe) pada tari gaya Yogyakarta. Gerak ini dipakai pada tari Golek dan Klana.
Gabahan. Rias bagian mata yang berpedoman dari wayang kulit bentuknya, seperti butir padi. Peranan yang mempunyai bentuk mata seperti ini biasanya karakter-karakter halus, seperti Arjuna, Kresna, Rama dan sebagainya. gabah artinya ‘butir padi’.

*Gada. Senjata perang tari putera gagah gaya Yogyakarta berupa alat pemukul. Di Yogyakarta berbentuk pemukul yang mempunyai tiga sisi yang pipih.
*Gadhung Mlati. Motif warna atau kombinasi warna yang sering dipakai pada kostum tari, antara lain untuk kain, *sampur, ikat kepala, kemben dan lain sebagainya. Warna terdiri dari warna putih dan hijau.
*Gelung. Irah-irahan atau tutup yang motifnya seperti hiasan rambut digelung atau dilengkungkan ke belakang. *Irah-irahan inibiasa dipakai seorang tokoh ksatria baik gagah maupun halus. Contohnya seperti Arjuna, Bima, Gathutkaca, Hanoman dan sebagainya.

*Gelung Bokor. Motif sanggul yang dipergunakan dalam tari Bedhaya atau Srimpi, khususnya gaya Yogyakarta. Dinamakan gelung bokor sebab bentuk sanggulnya menyerupai bokor atau mangkuk tempat air atau sayur.

*Gelung Tekuk. Motif sanggul yang dipergunakan jika seorang puteri yang sudah dewasa masuk ke Kraton. cara ini dilengkapi dengan kain memakai kemben atau semekan. Perkembangan sekarang sering untuk sanggulan jenis-jenis tari.

*Gendreh. Motif kain batik yang bentuk lereknya atau paranganya lebih kecil dari pada parang rusak. Biasanya dipakai untuk peranan Arjuna, Puntadewa dan lain sebagainya.

*Gendring. Sejenis Slawatan yang banyak di daerah Bantul. Tari yang dibawa adalah sebuah kipas kitap yang disebut tuladha atau tldha, yang dibacakan oleh dhalang. Tarian rakyat ini berfungsi sebagai upacara kedewasaan seperti khitanan, atau juga kaulan. Tarian ini bukan jenis tontonan umum, karena senua yang hadir ikut menari. Tarian ini diiringi musik terbang.

*Gimbalan. Jenis irah-irahan yang terbuat dari rambut palsu yang panjang dan hanya diberi zamang saja. Irah-irahan ini khususnya dipakai peranan rekasasa yang rucah atau raksasa yang tidak berperanan pokok di dalam pewayangan.

*Gincu. Bahan rias atau makeup yang warnanya merah atau merah muda, yang digunakan untuk mewarnai bagian pipi supaya lebih kelihatan muda atau menonjol.

*Godheg. Tiruan rambut yang tumbuh di muka telinga di bawah kening, dengan cara dirias. Dalam Wayang Wong bentuk godheg ini bermacam-macam menurut karakternya.

*Godheg Ngundhup Turi. Bentuknyaseperti bunga turi yang masih kuncup belum mekar. Dalam Wayang Wong bentuk godheg ini untuk karakter halus atau untuk puteri.

*Godheg Pengot. Bentuknya seperti pengot atau sejenis pisau. Dalam wayang wong atau jari jenis ini, untuk karakter yang gagah atau keras.

*Grompolan. Hiasan sumping yang dipasang pada ikat kepala tepen dibuat dari kulit kerbau atau sapai, bentuknya kecil seperti bunga..

*Halup-halup. Dasar rias muka, biasanya putih. Istilah ini sering dipakai dalam cara merias Wayang Wong khususnya gaya Yogyakarta.
Iket Kodhok Bineset. Ikat kepala atau blangkon tetapi bagian atas terbuka, sehingga setelah dipakai rambut bagian atas kelihatan.

*Ilat-ilatan. Bagian dari mekak. Disebut ilat-ilatan karena menyerupai lidah yang panjang, dipakai di tengah dada memanjang ke bawah yang fungsinya untuk menutup kancing atau tali mekak.

*Jahitan. Cara merias bagian mata untuk jenis tari Bedhaya gaya Yogyakarta. Bentuknya seluruh muka didasari lulur, tetapi di bagian sekeliling mata tidak, sehingga pada bentuk mata yang bisa njahit.

*Jamang. Hiasan kepala yang terbuaat dari kulit kerbau atau sapi, ditatah dan disungging atau dinada serta diberi kepet, mete seperti cuping atau kalung. Hiasan ini merupakan kesatuan dari pada irah-irahan. Motif zamang bermacam-macam menurut jenis irah-irahannya atau karakternya.

*Janget. Sama dengan jenjetan, bedanya bahannya dibuat dari kulit lembu yang dibentuk pipih sebesar kurang lebih ½ cm, sering ada yang berbentuk bulat pipih ada yang persegi.

*Januran. Bentuk zamang atau sumping yang sering juga disebut Jamang atau sumping pundhak setegel. Peranan-peranan dalam wayang wong yang memakai bentuk ini antara lain Bima, Hanoman, Ontorejo dan lain sebaginya.

*Jemparing. Bahasa Jawa Krama (tinggi, halus) untuk panah gaya Yogyakarta yang busur dengan anak panahnya menjadi satu. Penggunaan jemparing dalam perang tidak secara sunguh-sungguh,sebab anak panah tidak bisa terlepas dari busurnya apabila ditembakkan, tetapi hanya menimbulkan bunyi thek.

*Alus Impur . Tipe tari putera halus gaya Yogyakarta untuk ksatria yang halus dan rendah hati seperti Arjuna, Rama, Laksamana, Panji dan Darmawulan. Gerak-gerak lengannya agak terbuka, banyak menggunakan desain lengan simetris serta menggunakan sampur. Tipe tari ini juga sering hanya disebut impur.

*Alus Kalang Kinantang. Tipe tari putera halus gaya Yogyakarta untuk ksatria yang halus tetapi dinamis seperti misalnya Salya, Bisma dan Wibisana. Gerak-gerak lengannya agak terbuka, banyak menggunakan desain dengan asimetris serta mengunakan sampur. Tipe tari ini juga disebut kagok kinantang

*Andhe-andhe Lumut. Drama tari rakyat yang banyak berkembang di daerah Bantul dan Kulon Progo. Drama tari ini berisi ceritera Andhe – andhe Lumut. Yaitu cerita Panji. Pertunjukan ini diiringi seperangkat gamelan laras slendro atau pelog . Dahulu hanya ditarikan oelh penari pria saja, tetapi perkembanan sekarang tidak demikian. Gerak tarinya mendapat pengaruh dari wayang wong, khususnya gaya Yogyakarta. Para penari menyampaikan dialognya dengan bentuk tembang dan prosa.

*Apit Ngajeng. Penari pertama dari kanan penonton pad lajur pertama dari rakitan bedhaya gaya Yogyakarta.

*Apit Wingking. Penari pertama dari kanan penonton pada lajur ketiga dari rakitan bedhaya gaya Yogyakarta.

*Badui. Sejenis rodhat yang banyak berkembang di daerah Sleman. Penarinya anatar 20 sampai 80 orang saling berpasangan. Penari-penarinya membawa kipas dan sapu tanga. Dialog yang dibawakan berbentuk nyanyian dan sholawat dengan bahsa maupun bahasa Indonesia serta bahasa Jawa. Gerak tarinya dilakukan dengan posisi berdiri. Setiap berganti gerakn dengan tenda peluit yang dibunyikan oleh pimpinan penari itu. Tari Badui dari Sleman pernah mendapatkan juara pertama pada festival tari-tarian rakyat Indonesia di Jakarta pada tahun 1977.

*Ballet, Ramayana. Drama tari tanpa dialog Yogyakarta yang membawakan cerita dari epos Ramayana. Istilah balet yang berasal dari bahasa Perancis, ballet mempunyai arti yang sama dengan istilah sendratari. Kata ballet banyak dipergunakan oleh grup-grup tari Ramayana yang menyelenggarakan pertunjukan untuk para wisatawan.

*Bango Mate. Ragam gerak dengan tangan kiri ngruji, tangan kanan nyempurit. Seperti gerak seekor burung bango. Gerak ini terdapat pada tari puteri gaya Yogyakarta.

*Bangun Siswa. Sejenis Kobra Siswa, di tengah-tengah pertujukan ada demonstrasi akrobatik. Pertunjukannya terdiri dari permaian obor di atas tali yang direntangkan pada dua ujung bambu yang tingginya kurang lebih lima belas meter.

*Bapang Dhengklik Keplok Asta. Tipe tari putera gagah gaya Yogyakarta untuk peranan-pranan bala tentara raksasa. Kata dhengklik menunjukan ciri gerak salah satu kaki yang diangkat ke atas dan ditetapkan dengan tekukan lutut dan tekanan. Untuk bala tentara raksasa digunakan posisi tangan yang yang disebut keplok asta yang berarti “bertepuk tangan”

*Bapang Dhengklik Keplok Asta Usap Rawis. Tipe tari putera gagah gaya Yogyakarta khusu untuk para jin raksasa yang mempunyai watak tidak baik.

*Bapang Kentrog. Tipe tari putera gagah gaya Yogyakarta khusu untuk tari Bugis gaya Yogyakarta. Gerak-geraknya bersumber pada bapang, tetapi ditambah dengan gerak kentrong yaitu gerak meloncat-loncat di atas satu aki.

*Bapang Sekar Suhun Dhengklik. Tipe tari putera gagah gaya Yogyakarta untuk peranan-peranan raja raksasa atau pangeran raksasa seperti Prabu Newata Kawaca dan Kumbakarna. Sekar suwun adalah nama posisi lengan yang selalu mengarah ke atas dan yang lain mengarah diagonal ke bawah. Kata dhengklik menunjukan ciri gerak salah satu kaki yang diangkat ke atas ditapakan dengan tekukan dan tekanan.

*Bapang Ukel Asta. Tipe putera gagah gaya Yogyakarta khusus untuk dewa yang berwatak humor yaitu Bathara Narada.

*Barong. Tokoh binatang dalam Jathilan atau Incling. Barong yang sering disebut barongan ini ditarikan oleh dua orang berkerudung kain atau bagor, sehingga berbentuk binatang besar. Satu orang berada di muka menggerak-gerakkan kepalanya, sedang satunya berada di belakang menggerak-gerakkan pantat dan ekornya. Barongan ini berkepala binatang besar dengan mulut yang besar, tetapi tidak jelas jenis binatangnya.

*Batak. Penari kedua dari kanan penonton pada lajur tengah dari rakitan bedhaya gaya yogyakarta. Bersama endhel pajeg, penari batak memegang peranan penting dari cerita yang dibawakan oleh bedhaya. Pada bedhaya yang menceritakan Srikandhi Meguru Manah, penari Batak inilah yang berperan sebagai Srikandhi, sedangkan penari endhel pajeg berperan sebagai Arjuna.
Beber.

1. Jenis wayang yang cara pertunjukannya membentangkan kain yang telah digambari dengan gambar-gambar wayang dan telah dibri warna, mengambil cerita dari siklus Panji. Wayang beber sekarang masih terdapat di Desa Panung daerah Pacitan, jawa Timur.

2. Cara menawarkan di dalam pertunjukan gamelan ngamen dengan membunyikan kendhang sedemikan rupa agar diketahui oleh khalayak ramai agar menanggapnya.
Bedhah Bumi. Penari ngibing pertama pada tari tayub, biasanya pada upacara bersih desa yang mengawali menari ngibing adalah tuan rumah penyelenggara. Bedhah bumi mempunyai arti simbolis, yaitu melakukan persetubuhan, bedhah berarti membuka (njebol) yatitu penari putranya, sedang bumi artinya tanah yaitu penari putrinya.Upacara itu merupakan simbol kesuburan tanah pada waktu bersih desa sesudah panen.
Botoh.

1. Dua orang juru pemisah atau wasit pada tari Lawung gaya Yogyakarta yang berfumgsi sebagai pemberi aba kapan latihan perang dimulai dan berakhir serta memimpin jalannya latihan. Botoh menggunakan tipe tari putera gagah kalang kinantang raja.

2. Penjudi.
Arjunawiwaha, Bedhaya. Bedhaya gaya Yogyakarta hasil pengolahan Raden Lurah Sasmitamardawa dari Kawedanan hageng Punakawan Krida Mardawa Keraton Yogyakarta pada tahun 1976, mengambil cerita ketika Arjuna bertapa di Indrakila dengan segala macam godaan membunuh Niwatakawaca untuk kemudian dinobatkan menjadi raja bidadari. Iringan gendhing Ranumanggala, Pelog nem.
Dewa Ruci. Bedhaya. Komposisi tari bedhaya gaya Yogyakarta yang disusun oleh Sudharsono Pringgobroto pada tahun 1946, yang dipentaskan pertama kali pada pembukaan Universitas Gadjah Mada di Yogyakarta. Kostum, teknik tari, maupun jumlah penarinya sama dengan bedhaya klasik, tetapi tema yang dibawakan ialah cerita Dewa Ruci, suatu episode dalam epos Mahabarata yang menggambarkan peristiwa ketika Bima sedang dicoba oleh gurunya, yaitu Durna, untuk mencari air hidup di dasar samodra. Setelah segala rintangan dapat diatasi, Bima bertemu dengan Dewa Ruci yang memberinya petunjuk-opetunjuk yang baik.
Laleha, Bedhaya. Bedhaya dengan iringan gendhing Laleha serta merupakan salah satu bedhaya ciptaan zaman Sultan Hamengkubuwono VI, mengambil serat Harjunasasra ketika perang melawan Sumantri.
Lambangsari, Bedhaya. Bedhaya yang menggunakan gendhing Lambangsari sebagai pengiringnya, serta diciptakan pada zaman Sultan Hamengkubuwono VII di Yogyakarta. Tarian ini berisikan pertemuan percintaan Panembahan Senapati dari Mataram dengan Kajeng Ratu Kidul di pantai Laut Selatan (Samudra Indonesia).
Manten, Bedhaya. Komposisi tari bedhaya gaya Yogyakarta yang menggambarkan proses upacara perkawinan menurut adat Jawa, diciptakan oleh Sultan hamengkubuwono IX pada tahun 1943. Teknik tari dan pakain tarinya seperti bedhaya yang lain, tetapi penarinya hanya berjumlah enam orang.
Pangkur, Bedhaya. Bedhaya dengan urutan gendhing pengiring : Ketawang Pangkur gendhing kemanak Ladrang Kembangpepe dalam larasd slendro pathet manyura.
Prabudewa, Bedhaya. Bedhaya ciptaaan Sultan yang kemudian pada zaman Sultan Hamengkubuwono VI diolah kembali, serta dihadiahkan sebagai pusaka bedhaya di Kadipaten.
Revolusi, Bedhaya. Komposisi tari bedhaya gaya Yogyakarta yang disusun oleh Sudharso Pringgobroto pada tahun 1959. Tema yang dibawakan menggambarklan rangkaian peristiwa sejarah Indonesia dimulai sejak zaman penjajahan Belanda sampai zaman pemulihan keamanan tahun 1950 yang menggambarkan secar simbolis. Bedhaya Revolusi juga dibawakan oleh sembilan penari puteri, tetapi pakaiannya menggunakan pakaian puteri pada wayang wong gaya Yogyakarta dan rias muka serta kepalanya menggunakan rias pengantin puteri Yogyakarta. Sapta, Bedhaya. Komposisi tari bedhaya yang disusun oleh Tumenggung Purbaningrat pada tahun empatpuluhan, ditarikan oleh tujuh orang penari wanita. Bedhaya Sapta (sapta berarti tujuh) mengisahksn cerita ketika Sultan Agung (1613 – 1645) , raja Mataram III membuat batas antara Mataram dengan Pasundan.
Sejarah Taman Siswa, Bedhaya. Komposisi tari bedhaya yang disusun Sudharso Pringgosubroto pada tahun 1952, menggambarkan sejarah berdirinya Perguruan Taman Siswa pada tahun 1922 dengan tokohnya Ki hajar Dewantara. Kostum, teknik tari dan jumlah penarinya sama dengan bedhaya klasik, hanya temanya saja yang baru.
*Begalan.

1. Kesenian rakyat yang banyak berkembang di daerah BAnyumas. Kesenian rakyat berisikan wejangan –wejangan, sehingga pertunjukannya sering untuk meramaikan pesta perkawinan. Pertunjukan ini yang dipentingkan dialognya, sedang gerask tarinya sederhana dan sifatnya spontan yang dipengaruhi gerakan tari Jawa dan tari Sunda. Isi ceritanya tidak jelas, hanya terdiri dari dua penari, yatitu sebagai pembegal dan yang dibegal, sebagai simbol antar kebaikan dan kejahatan .

2. Pada wayng kulit adalah perang kembang, yaitu perang yang terjadi setelah gara-gara, yakni perang antara seorang ksatria melawan seorang raksasa yang biasanya disebut buta begal.
Beksa Alus. Teknik tari putra halus gaya Yogyakarta yang dipergunakan untuk peranan-peran ksatria halus dari Mahabarata, Ramayana, Panji dan Darmawulan seperti Arjuna, Kresna, Rrama, Laksamana, Panji, Darmawulan dan lain-lain. Ciri khas tipe putera halus ialah posisi kaki terbuka rendah, langkah sedang, pengangkatan kaki rendah, posisi lengan agak terbuka, gerak-geriknya lambat kecuali pada gerak perang. Beksa alus, bahasa jawa Krama (tinggi, halus) dari joged alus lazimnya dibawakan oleh laki-laki yang berperawakan sedang agak langsing.
Beksa Gagah. Teknik tari putera gagah gaya Yogyakarta yang dipergunakan untuk peranan-peranan ksatria gagah perkasa dari epos Mahabarata, Ramayana, Panji, Darmawulan dan sebagainya, seperti Bima, Baladewa, Rahwana, Klana, Sewandana, Menakjingga dan sebagainya. Ciri khas tipe putera gagah ialah posisi kaki terbuka agak cepat. beksa gagah, bahasa jawa Krama (halus, tinggi) dari Joged gagah lazimnya dibawakan oleh laki-laki yang berperawakan kokoh dan tinggi.
Putri., Beksa. Teknik tari puteri gaya Yogyakarta yang dipergunakan untuk tari bedhaya, srimpi, golek serta peranan-peranan puteri dalam berbagai drama tari Jawa. Cir khas tipe tari puteri ialah posisi kaki tertutup, langkah sangat kecil, posisi lengan agak tertutup, gerak kepala kecil tanpa tekanan, tekukan-tekukan anggota badan tidak tajam, gerak-geraknya lambat. Beksa putri lazimnya ditarikan oleh wanita, kecuali sebelum tahun 1918 untuk golek dan peranan-peranan puteri dalam wayang wong, Langendriya dan langen Mandrawanara dibawakan oleh penari laki-laki yang masih remaja, berperawakan ramping dan berparas cantik.
Bindi.

1. Senjata perang pada tari putera gagah Yogyakarta yang berupa alat pemukul yang berbentuk silinder.

2. Tabuh (alat pemukul ) Bonang, Kethuk, Kempyang dan Kenong.
Bliu Tau. Cara belajarmemainkan salah atu instrumen gamelan misalanya rebab tetapi tanpa metode yang benar, umumnya hanya dengan mendengarkan kemudian menirukan.
Bronjong Kawat. Sikap tangan seperti orang makan nasi tanpa menggunakan sendok maupun garpu, yaitu menggunakan jari-jari untuk mengambil makan. Sikap dilakukan agar nampak kaku.
Bugis. Komposisi tari berpasangan gaya Yogyakarta yang dibawakan oleh satu atau dua pasang penari, dengan menggunakan tipe tari putera gagah yang khas untuk Bugis yaitu bapang kentrong.Tari ini diperkirakan lahir di luar istana pada abad ke-19, menggambarkan prajurit-prajurit dari suku bugis dari Sulawesi Selatan yang sedang berlatih perang.
Buntil. Penari nomor 7 pada lajur tengah dari rakitan bedhaya gaya Yogyakarta.
Cakilan.

1. Jenis tarian raksasa.

2. Bambu bulat kecil besarnya kurang lebih dua pertiga cm panjangnya dua setengah cm, digunakan sebagai alat penahan bilahan gender, slenthem yang diikatkan pada pluntur.
Cancutan. Sering juga disebut cawetan yaitu cara berkain untuk peranan kera khususnya gaya Yogyakarta.
Canthang Balung. Salah satu penari pada tari golek gambyong. Canthang balung merupakan tokoh antagonis dan digambarkan sebagai tokoh unik.
Cekehan. Gerakan kaki pada tari kuda kepang, yaitu berjalan dengan kaki merendah atau mendhak, tetapi waktu akan melangkah kaki diangkat agak tinggi dengan meloncat sedikit. Gerakan ini bisa dijalankan maju dan mundur, iramanya pelan.

*Cepet. Tokoh dalam tari Jathilan atau Incling yang memakai topeng menutup seluruh muka. Dalam pertunjukan ini ada dua penari, yaitu cepet lanang topengnya berwarna hitam, dan cepet wadon topengnya berwarna putih. Dua tokoh ini juga sering disebut Cepetan atau Kecepet.

*Cindhil Ngungak Tumpeng. Ragam gerak menirukan seekor anak tikus (cindhil) yang melihat sekejap (ngungak) segunduk nasi (tumpeng). Gerak ini terdapat pada tari gagah Yogyakarta atau peranan yang akan kurang ajar.

*Cipta Budhaya. Organisasi pendidikan tari swasta gaya Yogyakarta yang ada di Yogyakarta yang sekarang tidak aktif lagi.

*Coklekan. Gerak tekukan kepala ke samping kiri atau kanan pada tari gaya Yogyakarta.

*Congklang. gerak tari pada tari kuda kepang mirip dengan gerak drap (lihat drap), tetapi kakinya lurus tidak ditekuk, iramanya agak pelan daripada drap.

*Congoran. Sering pula disebut cangkeman, dan berfungsi sebagai topeng, tetapi hanya menutup bagian mulut. Untuk bagian muka lainnya diberi rias. Gaya Yogyakarta congoran dipakai dalam Langenmandra Wanara.

*Contemporary Dance School Wisnuwardhana. Lembaga pendidikan tari kreasi baru swasta yang didirikan oleh Wisnuwardhana (lihat Wisnuwardhana).

*Cundrik. Prop tari sebagai senjata untuk perang, bentuknya seperti keris, tetapi tanpa warangka. Prop tari ini biasanya dipakai untuk peranan putri, khususnya dalam Wayang Wong atau tari gaya Surakarta.

*Damarwulan. Cerita seni historis dari Jawa asli yang menggambarkan seorang kesatria bernama Damarwulan yang bersedia membela kerajaan Majapahit terhadap pemberontak Adipati Menakjingga dari Blambangan. damarwulan berhasil membunuh Menakjingga, dan dapat melestarikan cintanya dengan Dewi Anjasmara, putri Patih Logender dari Majapahit. Cerita ini merupakan tema dari drama tari opera Jawa gaya Yogyakarta yang bernama Langendriya. Damarwulan juga sering dipentaskan dalam drama tari baru yang bernama sendratari.
Deder Sampur. Sampur yang digarap sebagai anak panah yang ditumpangkan pada lengan kiri, serta ditarik dengan jari tangan kanan.
Dhadha.

1. Penari nomor 6 pada jalur tengah dari rakitan bedhaya (lihat rakitan bedhaya) gaya Yogyakarta.

2. Nama nada di dalam gamelan (lihat gamelan). Untuk pencatatannya biasa diganti dengan angka 3, untuk laras
slendro dan laras pelog.

*Dhadha Mungal. Dada (dhadha) diangkat ke atas (mungal). Posisi ini adalah posisi dada yang baik pada tari gaya Yogyakarta.

*Dhuduk. Wanita yang bertugas menladeni menyampaikan senjata prang seperti perisai dan panah kepada penari Srimpi gaya Yogyakarta.

*Drap. Gerakan kaki pada tari kuda kepang di daerah Temanggung, gerakannya lari dengan kakai diangkat agak tinggi dan ditekuk, iramanya cepat.

*Duduk Wuluh. ragam gerak mengan kiri dan kanan dengan gerak ngoyog ke samping, diakhiri dengan lengan kiri mengarah diagonal lurus ke bawah, lengan kanan dalam posisi ditekuk seperti bertolak pinggang. Gerak ini terdapat pada tari puteri gaya Yogyakarta.

*Ebeg. Sejenis Emblek yang banayak berkembang di daerah Banjarnegara. para penari naik kuda kepang dengan membawa pedang, biasanya memakai kacamata yang bermacam-macam warnanya. pada klimaks pertunjukannya juga diadakan perang dengan permainan kaca cermin yang memantulkan sinar ,atahari yang ditujukan kepada lawannya.

*Emblek. Sejenis jathilan dari Kedu di daerah pegunungan. Pemainnya terdiri dari 7 orang, enam orang penari kuda kepang yang berpasanga-pasangan, satu sebagai pemimpinnya. Pertunjukannya dengan perang-perangan serta perang dengan permainan kaca yang memantulkan sinar matahari yang ditujukan kepada musuhnya. Biasanya mereka menari berputar-putar sampai ada yang tak sadar dan kemasukan roh halus (ndadi ).

*Encot. Gerak seluruh badan ke bawah setelah berhenti digerakan kembali ke atas. gerak ini terdapat pada tari puteri dan putera halus gaya Yogyakarta.

*Encot-encot asta. Ragam gerak kaki encot yang diakkhiri denganlengan kanan diluruskan diagonal ke bawah. gerak ini terdapat pada tari putri gaya Yogyakarta.

*Pajeg, Endhel. Penari nomor 3 pada lajur tengah dari rakitan bedhaya gaya Yogyakarta. Bersama batak penari ini memegang peranan penting dari cerita yang dibawakan oleh bedhaya. Pada bedhaya yang menceriterakan Srikandhi Meguru Manah, penari endhel pajeg inilah yang berperan sebagai Arjuna, sedangkan penari batak berperan sebagai Srikandhi.

*Wedalan Ngajeng, Endhel. Penari nomor 2 pada lajur ketiga dari rakitan bedhaya gaya Yogyakarta.

*Wedalan Wingking, Endhel. Penari nomor 9 pada lajur ketiga dari rakitan bedhaya gaya Yogyakarta.

*Endraya. Sikap tangan kiri naga ngelak dalam posisi di depan pusar. Sedangkan tangan kanan dengan sikap tangan ambaya mangap telentang dengan ujung jari menyentuh pinggang kanan.
Engkrang. Ragam gerak tangan kiri dan kanan dengan posisi sampur nyanthok dan kemudian sampur dilemparkan ke luar. Jika gerak ini diikuti dengan mengangkat dan menekuk kaki kiri disebut engkrang kiwa. dan jika yang diangkat dan ditekuk kaki kanan disebut engkrang tengen. Engkrang dipakai untuk tari putera halus dan gagah gaya Yogyakarta dalam enjeran, yang merupakan persiapan pada tari perang.
Engkrang Mlampah. Ragam gerak engkrang yang dibarengi dengan kaki melangkah. Gerak ini terdapat pada tari putera halus dan gagah gaya Yogyakarta.

*Enjeran. Tari persiapan dan pemanasan pada komposisi tari perang gaya Yogyakarta. Enjeran merupakan bagian kedua dari komposisi tari perang yang utuh yang terdiri dari empat bagian, yaitu maju gendhing, enjeran, perangan dan mundur gendhing.

*Erang Sampur. Gerak menirukan sindhen, dengan menutupi bibir dan menggunakan sampur sebagai penutupnya.

*Erek. Suatu gerakan jika akan perang-perangan di dalam tari sejenis Jathilan. Sebelum perang-perangan biasanya dua penari kuda kepang menggunakan gerakan erek, yaitu seperti berputar-putar membuat komposisi lingkaran.

*Etheng, Beksan. Komposisi tari kelompok berpasangan gaya Yogyakarta yang ditarikan oleh 12 orang penari pria, yang diciptakan oleh Sultan Hamengku Buwono I pada abad ke-18. Tari ini merupakan tari perang yang dibawakan oleh tiga kelompok penari, yaitu kelompok yang menggunakan tipe tari putera halus 4 orang yang diadu kekuatannya, kelompok yang meggunakan tipe tari putera gagah 4 orang sebagai yang mengadu, dan kelompok pelawak yang terdiri dari 4 orang pula.

*Gagah Impur. Tipe tari putera gagah gaya Yogyakarta untuk ksatria gagah tetapi palsu dalam tingkah laku seperti Prabu Suyudana dan Patih Udawa. Gerak-gerak lengannya terbuka, banyak menggunakan desain lengan simetris serta menggunakan sampur seperti pada tipe tari putera alus impur. Tipe ini juga lazim disebut kagok impur.

*Kalang Kinantang, Gagah. Tipe tari putera gagah gaya Yogyakarta untuk ksatria gagah dan agresif seperti Suteja, Sentyaki, Indrajit dan sebagainya. Gerak-gerak lengan terbuka, banyak menggunakan desain lengan simetris sertamenggunakan sampur. Tipe tari ini juga sering hanya disebut kalang kinantang.

*Kalang Kinantang Raja, Gagah. Tipe tari putera gagah gaya Yogyakarta untuk raja-raja gagah dan agresif seperti Baladewa dan Rahwana. Prinsip geraknya sama dengan gagah kalang kinantang, tetapi ada kelainan sedikit pada gerak-gerak tangan kirinya. Tipe tari ini juga sering hanya disebut kalang kinantang raja.

*Kembang, Gagah. Tipe tari putera gagahgaya Yogyakarta untuk ksatria gagah dan jujur serta teguh pendiriannya seperti Bima, Gathutkaca gaya Yogyakarta, Antareja dan Antasena. Gerak-gerak lengannya terbuka, banyak menggunakan desain lengan simetris serta menggunakan posisi tangan ngepel tanpa sampur. Tipe tari ini juga lazim disebut kambeng.

*Gajahan. Ragam gerak dengan salah satu lengan ditekuk ke atas hingga tangan berada di dekat telinga, lengan yang lain diagonal ke bawah dilakukan bergantian kiri dan kanan. Gerak ini dipakai pada tari putera gaya Yogyakarta.
Gajah Ngoling. Ragam gerak kedua belah tangan di atas telinga kanan dan kiri seperti seekor gajah yang sedang ngoling (menggeliat) dengan melambaikan belalainya ke atas pada tari gaya Yogyakarta. gerak ini dipakai pada tari bedhaya dan srimpi.
Gambyong.

1. Nama dari salah satu peran penari yang ada dalam tari Golek Gambyong.

2. Nama dari bonang nada gamelan carabalen.
Gambyongan.

1. Nama dari suatubentuk gendhing.

2. Suatu bentuk irama dalam gamelan Jawa.
Gapruk. Gerak beradu senjata yang lazimnya gada, pedang atau tombak pada tari perang putera gagah gaya Yogyakarta. Gapruk berarti beradu.

*Gebesan. Gerak kepala pada tari kuda kepang mirip pacak gulu, geraknya sederhana yaitu kepala digerakkan ke kanan dan ke kiri bersama-sama dengan menggerakkan kepala kuda kepang.

*Gedheg. Menggelengkan kepala ke kiri dan ke kanan pada tari putera gaya Yogyakarta. Gerak kepala ini biasanya dipergunakan oleh peranan-peranan yang bertopeng agar muka nampak hidup..

*Gedrug. Gerak menghentakkan salah satu kaki kiri atau kanan ke lantai dengan ujung kaki di belakang kaki yang lain pada tari puteri dan putera halus gaya Yogyakarta. Jika yang dihentakkan kaki kiri bernama gedrug kiwa, dan bila yang dihentakkan kaki kanan bernama gedrug tengen. Kiwa berarti kiri, tengen berarti kanan.

*Gelar. Strategi perang klasik yang banyak dipergunakan pada drama tari klasik seperti wayang wong gaya Yogyakarta. Gelar ini ada bermacam-macam, antara lain Gelar Garudha Nglayang yang bentuk formasinya seperti burung garuda yang sedang melayang, Gelar Emprit Neba yang bentuk formasinya seperti burung emprit dalam jumlah banyak yang sedang beterbangan, Gelar Wulan Tumunggal yang bentuk formasinya melengkung seperti bulan yang baru saja menginjak hari pertama, Gelar Dirada Meta yang bentuk formasinya seperti seekor gajah yang sedang marah, dan lain-lain.

*Gendhewa. Busur panah, yaitu bagian untukmelepaskan anak panah. Di dalam wayang wong gendhewa sering dibawa untukmenunjukkan bahwa yang membawa adalah ksatria.
Genjotan. Gerak langkah besar ke samping kiri atau kanan disertai dengan tekanan.Gerak ini terdapat pada tari putera gagah gaya Yogyakarta.

*Genjring. Nama instrument, bentuknya seperti terbang kecil tetapi pada bagian kayu diberi lubang untuk menempatkan logam-logam yang tipis. Genjring disebut pula tamper atau kerincing.
Genukan. Sama dengan grimingan. Istilah ini umumnya dipakai pedhalangan Yogyakarta.

*Gidrah. Ragam gerak yang diakhiri dengan mempertemukan tangan kiri dan kanan di depan perut. Gerak ini dipakai pada tari puteri gaya Yogyakarta.

*Gladhi Resik. Istilah ini dipakai untuk menyebut latihan yang terakhir sebagai suatu persiapan pentas atau pertunjukan tari. Menurut tradisi para peran putera mengenakan celana panji-panji, kain sapit urang (bisa juga memakai kain wiron biasa), sabuk bara kamus timang, keris, tanpa baju, udheng. Sedang untuk puteri dengan kain, kebaya, gelung tekuk atau ukelan biasa.

*Asmaradana, Golek. Jenis tari golek gaya Yogyakarta yang diiringi gendhing Asmaradana.
Ayun-ayun, Golek. Jenis tari golek gaya Yogyakarta yang diiringi gendhing ayun-ayun.

*Golek Surenggraha. Jenis tari golek gaya Yogyakarta yang diiringi gendhing Surenggraha dicipta Tumenggung Purwadiningrat pada tahun 1967 dan merupakan Golek yang tertua di Yogyakarta.

*Guntur Segara. Komposisi tari kelompok berpasangan gaya Yogyakarta yang dibawakan oleh empat orang penari putera, menggunakan tipe tari putera gagah. Tari yang menggambarkan perang antara dua pasang ksatria ini dicipta oleh Sultan Hamengkubuwono I pada abad ke – 18. Kedua pasang ksatria ittu ialah Jayasena yang ditarikan oleh kedua orang penari dan Guntur Segara yang ditarikan oleh dua orang penari pula. Kedua ksatria yang berperang itu adalah tokoh-tokoh dari cerita Panji.

*Impang Encok. Ragam gerak dengan kaki kanan menyilang kaki kiri yang diakhiri dengan gerak kaki encot. Gerak ini terdapat pada tari puteri gaya Yogyakarta.

*Impang Lembehan. Ragam gerak dengankaki kanan menyilang kaki kiri, dengan diikuti oleh gerak tangan melenggang (lembehan). Gerak ini terdapat pada tari puteri gaya Yogyakarta.

*Impang Ngawer Udhet. Ragam gerak dengankaki kanan menyilang kaki kiri tangan kiri ragam ke depan dengan posisi ngruji, tangan kanan memegang udhet (belendang) dengan digerak-gerakan ke atas dank e bawah. Gerak ini terdapat pada tari puteri gaya Yogyakarta.

*Indra. Gerak pada tari Bandabaya gaya Paku Alam di mana secara berulang dilakukan dalam sikap yang sama yaitu kaki kanan melangkah diikuti kaki kiri gedrug di dekat tumit kanan. Sedangkan kiri membawa tameng di dekat pinggang dan kanan membawa pedang, lengan lurus dekat paha dan pedang lurus bagian tajam di atas.
Jajar. Empat penari putera pada tari Lawung gaya Yogyakarta yang berstatus sebagai prajurit. Jajar menggunakan tipe tari putera bapang.

*Jongko Ngilo. Ragam gerak bercermin pada tari putera gaya halus dan gagah gaya Yogyakarta yang dilakukan dengan tangan kiri memegang sampur dengan posisi miwir dan tangan kanan nyempurit.Jangko berarti “tinggi”, ngilo berarti “bercermin”. Gerak ini dipakai pada enjeran yangmerupakan bagian persiapan dari tari perang.
Jangkung Miling. Ragam gerakan lengan dengan mencangkolkan sampur pada siku kiri dan kanan yang diikuti oleh gerak kepala yang disebut miling. Gerak ini terdapat pada tari puteri gaya Yogyakarta.

*Jaran Penumbuk. Penari kuda kepang dalam tari Dhoger yang berfungsi sebagai penari utama. Biasanya penarinya adalah penari dhadhak merak sampai ndadi, setelah sadar terus ganti menari jaran penumbuk juga sampai ndadi.

Sejarah Asal Usul Blangkon

Sejarah Asal Usul Blangkon

30 Oktober 2013 pukul 14:10

Sejarah Asal Usul Blangkon   Sejarah Asal Usul Blangkon Blangkon merupakan salah satu penutup kepala bermotif batik, dengan design yang unik yang mana dikenakan oleh pria sebagai bagian dari busana traditional Jawa. Namun dari beberapa sumber yang telah saya telisik, tidak ada satupun yang mengetahui dari mana asal usul pria Jawa mengenakan ikat kepala yang dinamakan Blangkon ini. Namun ada teori lain yang berasal dari para sesepuh yang mengatakan bahwa pada jaman dahulu, ikat kepala tidaklah permanen seperti sorban yang senantiasa diikatkan pada kepala. Tetapi dengan adanya masa krisis ekonomi akibat perang, kain menjadi satu barang yang sulit didapat. Oleh sebab itu, para petinggi keraton meminta seniman untuk menciptakan ikat kepala yang menggunakan separoh dari biasanya untuk efisiensi maka terciptalah bentuk penutup kepala yang permanen dengan kain yang lebih hemat yang disebut blangkon. blangkon pada prinsipnya terbuat dari kain iket atau udeng berbentuk persegi empat bujur sangkar. ukurannya kira-kira selebar 105 cm x 105 cm. yang dipergunakan sebenarnya hanya separoh kain tersebut. Ukuran blangkon diambil dari jarak antara garis lintang dari telinga kanan dan kiri melalui dahi dan melaui atas. pada umumnya bernomor 48 paling kecil dan 59 paling besar. blangkon terdiri dari beberapa tipe yaitu : Menggunakan mondholan, yaitu tonjolan pada bagian belakang blangkon yang berbentuk seperti onde-onde. blangkon ini disebut sebagai blangkon gaya yogyakarta. Tonjolan ini menandakan model rambut pria masa itu yang sering mengikat rambut panjang mereka di bagian belakang kepala, sehingga bagian tersebut tersembul di bagian belakang blangkon. Lilitan rambut itu harus kencang supaya tidak mudah lepas. Semoga informasi mengenai Sejarah Asal Usul Blangkon ini dapat menambah pengetahuan Sobat semua. Mari kita cintai dan sama-sama menjaga apa yang telah menjadi tradisi bangsa kita, sebagai wujud melestarikan khazanah nusantara yang beraneka ragam dan tiada terkira